Langsung ke konten utama

Dilema: UN VS Moral

     Cerita ini diawali dari cerita teman guru, Pak Budi. Pada waktu itu beliau menceritakan mengenai putranya yang duduk di kelas 6 SD, Fira. Fira adalah seorang siswi SD yang kerap juara 1 di kelasnya. Dan dia tergolong anak yang cerdas, hal ini dibuktikan dengan nilai ulangan hariannya yang kerap dapat 'hampir' 100.
     Pada suatu ketika, sepulang sekolah, Fira dengan keluguannya sebagai seorang anak SD, menangis dan mengadu ke bapaknya.
     "Yah, gak berguna aku belajar selama ini, lha gimana.... teman-teman yang mengerjakan soal UN tadi dikasih lembaran kecil sama pak guru yang berisikan lengkap jawaban soal matematika" sambil menangis kepada ayahnya.
     "Ya gak gitu fir. Biarlah yang lain seperti itu, mereka takkan bangga dengan nilai hasil contekan itu. Tetapi kalau sampean mengerjakan sendiri khan bangga. Hasil dari pemikiran sendiri. Fira gak boleh menyerah dan jangan putus asa" ujar Pak Budi untuk membesarkan hati anaknya yang merasa dikhianati oleh gurunya. Yang notabene, beliau (red. guru-guru) selalu dihormati dan dikaguminya. Bahkan tugas dari guru selalu dia kerjakan dan malahan sering mengutamakan perintah guru daripada orang tuanya sendiri.

Yahhh....
     Yah... begitulah fakta yang ada. guru dengan dilematikanya membuat sebuah keputusan yang terkadang di'maknai' oleh siswa didiknya sebagai suatu tindakan yang menyedihkan. Guru tak bisa berbuat banyak dalam kondisi ini. Antara idealis dan tuntutan 'prestise' sekolah adalah buah simalakama yang harus mereka telan tiap kali tahun ajaran berakhir.
      Benang merah yang ingin saya tarik adalah setiap anak yang belajar di Indonesia Raya tercinta pasti akan melewati proses kelulusan yang dinamakan dengan UN. Dan banyak diantara mereka  merasakan apa yang 'Fira' rasakan. Di sekitar usia 12 tahun, seluruh siswa siswi SD di seluruh Indonesia Raya diajari 'kecurangan massal' oleh sosok yang selalu mereka kagumi dan mereka teladani. Sebuah batu pondasi nilai yang buruk pertama kali kita tanpa sadar tancapkan pada kepala siswa siswi yang masih polos dan lugu untuk pertama kalinya. Dan hal ini akan berulang untuk 3 tahun selanjutnya ketika mereka di SMP dan seterusnya.
     Praktik penyimpangan nilai yang dilihat langsung oleh siswa siswi tersebut oleh guru tercinta mereka akan menjadi warna pemikiran 'nakal' mereka untuk kehidupan moral anak bangsa. Jika pada waktu itu mereka masih kecil, kita yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa 30 tahun yang akan datang 'fira-fira' di seluruh indonesia mungkin sudah menjadi kepala sekolah, dokter, camat, pegawai bank dan beberapa posisi yang mungkin menentukan kebijakan bangsa di masa yang akan datang. Peluang mereka menjadi sosok Nazarudin, Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum, Gayus di masa yang akan datang akan mejadi lebar jika kita tidak menghentikan 'pen-dogma-an' nilai yang salah kala mereka kecil.
     Sebuah renungan untuk kita semua...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengajian: KH. Abdul Ghofur

Jika anda ingin mendapatkan pengajian KH. Abdul Ghofur yang berbahasa Jawa, anda dapat dengan mudah mendownloadnya di sini. Pada link tersebut sebenarnya berasal dari 4shared hanya saja jika anda mendowloadnya langsung dari 4shared maka anda akan agak menunggu lama (500 detik).

Adapun judul-judul pengajian KH. Abdul Ghofur yang bisa anda download adalah:
1.   Bab-Sholat-Bag-I (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
2.   Bab-Sholat-Bag-II (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
3.   Bab-Sholat-Bag-III (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
4.   TAMU-Bag-I (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
5.   TAMU-Bag-II (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
6.   TAMU-Bag-III (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
7.   Khasiat-Basmallah-bag-I (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
8.   Khasiat-Basmallah-bag-II (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
9.   Khasiat-Basmallah-bag-III (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
10. Ahlak (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
11. Dzikir Setelah Sholat Ashar (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
12. Haji (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
13. Nafsu, Ruh & Raga Manusia (KH. ABDUL GHOFUR).mp3
14. Sedekah & Perbaikan Infrastruktur (KH.…

H. Marzuqi Romli

Giriloyo adalah sebuah dusun di bawah kaki perbukitan Imogiri. Masyarakat sekitar  mengenal dengan nama Pajimatan, suatu bukit yang terkenal di daerah kawasan selatan Yogyakarta karena disanalah raja-raja Kerajaan Mataram Islam dimakamkan.

Daerah Giriloyo ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta (jaraknya hanya sekitar 15 km). Namun karena daerah ini terpencil dan berada di kaki bukit. Sasana khas pedesaan yang sepi dan sunyi namun penuh dengan  kebersamaan dan kedamaian sangat mewarnai daerah tersebut.

Suasana sepi yang mewarnai Giriloyo itu pada pertengahan abad ke-18 M sedikit demi sedikit berubah dengan munculnya kelompok pengajian yang diasuh oleh KH. Romli, seorang ulama yang menjadi Mursyid Tarekat Syathariyah. Seluruh murid-muridnya diberi ijazah tarekat tersebut dengan maksud agar mereka memiliki amalan-amalan harian yang pada akhirnya bisa lebih mendekatkan diri pada Allah SWT.

H. Muhammad Farhan

Muhammad Farhan lahir di Klaten pada tahun 1960-an, putra dari pasangan almarhum Sayid Usman dan almarhumah Farikhatun. Kedua orang tuanya masyarakat ‘aam namun cukup dekat dengan para ulama, salah satunya almarhum KHR. Muhammad Sofwan Klaten (guru Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud ketika ngaji di Mamba’ul Ulum Klaten).

Karena kedekatannya dengan ulama, orang tua Ustadz Farhan yang dikaruniai 7 orang anak  mempunyai pemikiran bahwa bila anaknya diberikan pendidikan pessantren akan sangat menghemat biaya (karena hidup di pesantren sangat murah apalagi pesantren al-Qur’an hanya sekali beli al-Qur’an dapat untuk mengaji selamanya). Hasilnyapun tentu akan menjadi orang pilihan. Ilmu yang didapat adalah ilmu yang dapat paling tidak bisa bermanfaat bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat, syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain.